Scaling dapat mengikis email gigi?

Banyak orang yang berpikir bahwa scaling dapat mengikis email gigi dan menyebabkan gigi menjadi ngilu. Berikut penjelasan mengenai scaling.

scaling1-e1280588892448

Proses penghilangan plak dan kalkulus pada gusi bagian atas dan atau bawah dari permukaan gigi disebut dengan “scaling”. Peralatan yang digunakan dalam proses scaling baik yang manual ataupun ultrasonik tidak akan merusak email gigi.

Selain bentuk alatnya yang memang telah didisain khusus sesuai dengan anatomi gigi dan tidak menimbulkan panas, juga didukung dengan kemampuan operator yang baik.

Tingkat ketajaman ujung alat di dalam proses “scaling” juga mempengaruhi kemudahan akses, sehingga tidak akan membahayakan jaringan lunak dan keras di dalam rongga mulut anda.

Frekuensi yang diperlukan untuk membersihkan karang gigi berbeda-beda pada setiap orang, rata-rata 6 bulan sekali. Namun, ada juga yang melakukannya dalam waktu 3 bulan sekali. Proses pembersihan karang gigi untuk rahang atas dan bawah, dapat selesai dalam 1 kali kunjungan perawatan.

Plak atau karang gigi yang didiamkan saja, dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti peradangan gusi yang ditandai dengan gusi berdarah, bengkak, bahkan kegoyangan gigi. Sebaiknya saat ini anda segera mendatangi Dokter Gigi untuk dilakukan scaling.

Bleaching Gigi

Noda pada gigi bisa mengurangi sempurnanya senyuman. Memutihkan gigi dengan cara di-bleaching memang menjadi cara yang ampuh untuk mengembalikan warna asli dan cemerlangnya gigi.
Ada banyak penyebab warna gigi menjadi kusam, antara lain kebiasaan merokok, minum kopi, teh, red wine, atau riwayat penggunaan obat-obatan tertentu. Untuk menghilangkan noda pada gigi, kini tersedia perawatan pemutihan gigi (dental bleaching).

Gigi-Putih

 

Ada dua macam metode pemutihan gigi, yakni di rumah dan di klinik dokter gigi.  Di klinik, dokter gigi akan menggunakan bahan pemutih gigi hidrogen perioksida untuk menarik warna asli gigi, sementara itu pemutihan gigi di rumah pada dasarnya adalah lanjutan dari proses yang dilakukan di klinik.

Dibandingkan beberapa tahun lalu, saat ini sudah tersedia bahan-bahan pemutih gigi yang bisa mengubah warna gigi sampai beberapa tingkatan warna.

Untuk keamanan dan hasil yang optimal, lebih disarankan agar bleaching di lakukan di klinik gigi. Karena apabila salah dalam penggunaan, bahan pemutihnya bisa mengiritasi gusi atau jaringan lunak.

10 Mitos dan Fakta Gigi

Berikut mitos dan fakta mengenai gigi:

corious-cat-kucing-lucu-500x375

Mitos vs Fakta # 1

Mitos : Gigi atas yang sakit jika dicabut akan mempengaruhi syaraf mata. Bahkan dapat menyebabkan kebutaan.

Fakta : Syaraf yang mempersyarafi gigi geligi atas berbeda dengan syaraf mata. Bila seseorang sakit gigi karena karies (lubang gigi) pada gigi atas, penjalaran infeksinya memang dapat mencapai pipi hingga mata. Namun pencabutan gigi atas tidak akan menyebabkan kebutaan.

 

Mitos vs Fakta # 2

Mitos : Sakit gigi dapat disembuhkan cukup dengan minum obat penghilang rasa sakit (analgesik).

Fakta : Obat “pain killer” hanya membantu untuk menghilangkan rasa sakit sementara, namun infeksi bakteri pada gigi tetap ada dan suatu waktu rasa sakit akan timbul lagi. Maka jika terjadi karies, gigi tersebut harus dirawat. Bila karies belum mencapai jaringan syaraf, gigi masih bisa ditambal. Namun bila jaringan syaraf sudah terekspos, maka gigi sudah tidak bisa langsung ditambal tapi harus dilakukan perawatan saluran akar terlebih dulu.

 

Mitos vs Fakta # 3

Mitos : Gigi tidak perlu dicabut dan boleh dibiarkan saja bila yang tersisa tinggal akarnya saja. Toh, sudah tidak ada keluhan yang dirasakan.

Fakta : Bila gigi berlubang dibiarkan dan tidak dirawat, lama kelamaan gigi tersebut dapat patah sedikit demi sedikit karena adanya tekanan kunyah. Pada akhirnya, mahkota gigi habis dan yang tersisa tinggal akarnya saja. Biasanya pada gigi tersebut sudah tidak ada keluhan lagi. Namun bukan berati masalah sudah selesai. Akar gigi yang terekspos dengan lingkungan gigi tetap dapat menjadi sumber infeksi. oleh karena itu, biarpun sudah tidak terasa sakit gigi tersebut tetap harus dicabut dan dibuatkan gigi tiruan penggantinya.

 

Mitos vs Fakta # 4

Mitos : Anak yang punya kebiasaan menghisap jari giginya bisa maju atau tonggos.

Fakta : Banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa kebiasaan thumb sucking pada anak dapat menyebabkan gigi depannya tonggos, tapi bergantung pada beberapa hal. Misalnya, sampai berapa lama anak tersebut terbiasa menghisap jari. Seberapa sering ia menghisap jari dalam sehari dan besarnya tekanan hisap si anak juga dapat mempengaruhi derajat keparahan. Kebiasaan menghisap jari yang bertahan antara 36 dan 48 bulan dapat meningkatkan resiko majunya gigi depan secara signifikan.

 

Mitos vs Fakta # 5

Mitos : Bila seseorang sakit gigi lebih baik dicabut daripada ditambal, karena setelah ditambal pun masih bisa sakit lagi.

Fakta : Pencabutan gigi adalah alternatif terakhir, bila perawatan lain sudah tidak mungkin dilakukan. Gigi sebisa mungkin dipertahankan dalam mulut, karena kehilangan satu gigi saja sudah dapat mengurangi efektivitas dalam pengunyahan. Gigi yang hilang sebaiknya diganti dengan gigi tiruan, namun sebaik apapun gigi tiruan masih lebih baik gigi aslinya. Saat ini ilmu dan teknologi di bidang kedokteran gigi telah berkembang pesat. Material kedokteran gigi terus menerus diperbaiki, sehingga hasil tambalan yang baik dan tahan lama dapat dicapai.

 

Mitos vs Fakta # 6

Mitos : Bau mulut disebabkan karena adanya masalah di pencernaan.

Fakta : Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa 85 % bau mulut berasal dari gigi dan mulut. Bau mulut yang disebabkan oleh perut sangat jarang terjadi. Bau mulut disebabkan oleh bakteri yang bersarang di dalam mulut, bisa berada di gusi yang meradang, gigi yang berlubang, karang gigi, tambalan yang bocor, dan terutama di bagian belakang lidah. Bakteri yang berkembang dalam lingkungan tanpa oksigen ini memproduksi gas berbau yang disebut ‘volatile sulfur compound’. Inilah yang menyebabkan bau mulut.

 

Mitos vs Fakta # 7

Mitos : Obat kumur dapat menghilangkan bau mulut.

Fakta : Menurut suatu penelitian yang menguji keefektifan obat kumur yang mengandung essential oil, jumlah bakteri berkurang secara bermakna 12 jam setelah penggunaan. Namun obat kumur hanya efektif dalam jangka waktu yang pendek. Malahan, pemilihan obat kumur harus dilakukan secara hati-hati, karena obat kumur berbahan dasar alkohol justru dapat memperberat bau mulut bila digunakan secara berlebihan, karena kandungan alkohol dapat membuat mulut menjadi kering. Untuk menghilangkan, atau setidaknya mengurangi bau mulut, pembersihan gigi tidak difokuskan ke permukaan gigi saja melainkan ke seluruh permukaan yang ada di dalam rongga mulut. Terutama jaringan lunak seperti lidah dan gusi.

 

Mitos vs Fakta # 8

Mitos : Pencabutan gigi tidak boleh dilakukan pada saat wanita sedang menstruasi.

Fakta : Perubahan hormonal yang dialami wanita turut mempengaruhi keadaan di rongga mulutnya. Saat menstruasi, terjadi perubahan hormonal yaitu peningkatan kadar estrogen dan progesteron yang dapat menyebabkan gusi lebih rentan terhadap peradangan. Meski demikian, pencabutan tetap dapat dilakukan pada saat wanita sedang menstruasi. Untuk menghindari resiko, pencabutan sebaiknya ditunda hingga minggu terakhir siklus menstruasi (hari ke 22-28) di mana kadar estrogen sedang rendah.

 

Mitos vs Fakta # 9

Mitos : Bila gigi anak berlubang tidak perlu ditambal karena nanti juga akan digantikan oleh gigi tetap/permanen.

Fakta : Gigi anak yang berlubang tetap harus ditambal, karena gigi yang berlubang dan tidak dirawat dapat menyebabkan infeksi menjalar ke jaringan pendukung gigi. Hal ini akan mempengaruhi gigi permanennya yang sedang dalam tahap tumbuh kembang. Selain itu adanya karies pada gigi anak dapat menyebabkan anak berkurang nafsu makan dan cenderung rewel.

 

Mitos vs Fakta # 10

Mitos : Sariawan disebabkan oleh kekurangan vitamin C.

Fakta : Sariawan dalam dunia medis disebut dengan aphtous stomatitis. Penyebab dari penyakit ini belum diketahui secara pasti, namun ada banyak faktor yang diyakini berkaitan dalam memicu terjadinya sariawan. Di antaranya adalah menurunnya sistem imun (kekebalan tubuh), stress, trauma pada jaringan lunak dalam rongga mulut (seperti tergigit yang berulang-ulang), kurang nutrisi, atau disebabkan karena obat-obatan tertentu. Bila sariawan terjadi berulang-ulang dan hilang timbul, maka disebut recurrent aphtous stomatitis (RAS).